Buku ; Negeri Lima Negara

Posted: 13 April 2012 in Uncategorized

Salah satu film Indonesia yang menarik saat ini adalah film Negeri 5 Menara. Film ini baru tayang di bioskop, 1 Maret 2012 lalu. Film ini adaptasi dari sebuah novel dengan judul yang sama karya A.Fuadi, di mana di dalamnya menceritakan mimpi seorang anak untuk dapat melanjutkan studinya di ITB yang ingin menjadi orang hebat seperti BJ. Habibie, salah satu orang yang memiliki kecerdasan luar biasa di Indonesia.

Film Negeri 5 Menara memiliki hikmah dan inspirasi tentang tekad, kerja keras, dan persaudaraan. Di mana jika kita bersungguh-sungguh dan bertekad besar dalam meraih impian kita, niscaya kita dapat meraihnya. Walaupun akan ada banyak tantangan dan hambatan di setiap langkah kita.

Layaknya sebuah karya yang difilmkan, maka tidak akan 100 % persis sama dengan novel aslinya. Bahkan, tidak jarang untuk menghidupkan suasana yang visual memerlukan adegan tambahan yang sebenarnya tidak ada dalam buku tersebut.

 Negeri  5 Menara yang memiliki ketebalan xiii +  423 halaman, menceritakan tentang seorang anak yang bernama Alif Fikri yang berasal dari Maninjau, Bukittinggi. Dia adalah seorang anak desa yang sangat pintar. Ia dan teman baiknya, Randai, memiliki mimpi yang sama: masuk ke SMA dan melanjutkan studi di ITB.

Selama ini mereka bersekolah di madrasah atau setara dengan SMP. Dan merasa sudah cukup menerima ajaran Islam dan ingin menikmati masa remaja mereka seperti anak-anak remaja lainnya di SMA.

Setiba kelulusan, Alif menjadi salah satu siswa yang mendapat nilai tertinggi di sekolahnya yang membuatnya merasa akan lebih terbuka kesempatan untuk Amak (Ibu) memperbolehkannya masuk sekolah biasa, bukan madrasah lagi. Namun Amak menghapus mimpinya masuk SMA,“Beberapa orang tua menyekolahkan anaknya ke sekolah agama karena tidak cukup uang untuk masuk ke SMP atau SMA. Lebih banyak lagi yang memasukkan anaknya ke sekolah agama karena nilainya tidak cukup. Bagaimana kualitas para buya, ustad, dan dai tamatan madrasah kita nanti? Bagaimana nasib Islam nanti? Waang (panggilan untuk anak laki-laki minang) anak yang cerdas dan punya potensi yang tinggi. Amak berharap Waang menjadi pemimpin agama yang mampu membina umatnya,” kata Amak yang membuat harapan anaknya masuk SMA pupus.

Dengan membaca potongan cerita di atas, dapat dengan mudah kita menerka nuansa apa yang akan kita rasakan sampai pada selesainya cerita tersebut. Ya, nuansa Islam. Kisah ini terinspirasi dari kisah nyata penulis saat menempuh pendidikan di pesantren yang tidak terbayang sebelumnya. Selama perjalanan pendidikan di Pesantren, Alif belum bisa menemukan rasa nyaman seperti keinginannya meraih mimpi seperti Habibie.tapi sahabatnya yang tergabung dalam sohibul menara, menemaninya dalam mencipta karya-karya besar. Hingga akhirnya dia menemukan sisi terbaik yang diberikan pesantren untuk dirinya, seperti kalimat pertama yang ia lihat, “Ke Madani, Apa yang Kau Cari”

Baik dalam film maupun novel, gaya bahasa yang digunakan sangat menarik. Ringan, deskriptif, dan mengalir serta mampu memperkaya kosakata dan wawasan berbagai macam bahasa daerah. Di dalam novelnya terdapat bahasa daerah Maninjau, Medan, Sunda, dan Arab. Tidak tertinggal catatan kaki di bagian bawah yang menjelaskan arti dari kata tersebut. Ungkapan-ungkapan dan peribahasa juga terdapat dalam penulisannya, seperti “man jadda wajada” yang paling sering dicantumkan. “Siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil.” Ungkapan-ungkapan seperti ini sangat penting dalam sebuah novel karena mampu memberikan semacam trade mark yang membuat novel ini lebih terkenang di hati pembaca. Begitu juga di film nya, setiap sohibul menara menyiapkan karya besar, maka serentak mereka menguncapkan “Man Jadda Wajada”

 Negeri  5 Menara ini menceritakan berbagai kisah sederhana kehidupan di Pondok Madani, pesantren modern yang akhirnya menampung Alif di dalamnya. Suka, duka, persahabatan, dan pengajaran-pengajaran PM yang sederhana namun mengena. PM berbeda dengan sekolah agama lainnya karena di sini para murid dilatih untuk menjadi intelektual dan mampu menganalisa berbagai ilmu dari sudut pandang Islam. Sehari-harinya mereka wajib menggunakan bahasa Arab dan bahasa Inggris. Jika melanggar, tidak mungkin tidak terlepas dari hukuman. PM sangat ketat dengan pengawasan dan kedisiplinannya.

Baik Novel maupun filmnya, masing-masing memiliki kelebihan. Dengan novel, pembaca bisa berimajinasi sesuai  kondisi isi cerita, sedangkan pada film, kita bisa melihat secara langsung aksi kreatifitas anak pesantren, dari yang lucu hingga yang menitikkan air mata. Di sini juga penikmat buku atau film disajikan tentang kehidupan di pondok Madani.

Novel atau film ini dapat menjadi salah satu pengharapan bagi Indonesia, setidaknya masih ada pemuda di luar sana yang rela memberikan dirinya dipakai masa depan. Bukan menempatkan masa depan di tangan sendiri untuk ia tentukan. Merupakan satu penghiburan bahwa masih ada orang-orang yang sungguh-sungguh rela belajar dan mengasah diri untuk dapat memberikan sumbangsih pada dunia, terutama pada tanah airnya sendiri. Namun novel ini juga dapat menjadi kisah yang mengiris hati karena menyadarkan kita bahwa hampir tidak ada generasi muda yang seperti itu, bahkan mungkin.. Termasuk kita sendiri?

Beberapa pendapat dari para tokoh, yakni BJ Habibie, “”Novel yang berkisah tentang generasi muda bangsa ini penuh motivasi, bakat, semangat, dan optimisme untuk maju dan tidak kenal menyerah, merupakan pelajaran yang amat berharga bukan saja sebagai karya seni, tetapi juga tentang proses pendidikan dan pembudayaan untuk terciptanya sumber daya insani yang handal.”.(nurbaiti)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s