PAHLAWAN PERANG LIMA HARI LIMA MALAM

Posted: 14 Desember 2012 in ICMI News

PIC_9250PERANG Lima Hari Lima Malam di Kota Palembang membuktikan adanya semangat kepahlawanan masyarakat Sumsel. Namun dalam penulisan kepahlawanannya selalu berujung kontroversial. Karenanya kepahlawanan Perang Lima Hari Lima Malam cenderung hanya jadi cerita dari mulut ke mulut. Berakibat masyarakat Sumsel cenderung kehilangan sejarah kepahlawanan nenek moyangnya.

Fenomena begitu terungkap dalam seminar “Pemahaman dan Penghayatan Perang Lima Hari Lima Malam dalam Rangka Hari Pahlawan 10 Nopember 2012”. Melibatkan pembicara Mayor Inf. Supardi Lubis, SA., dari Kodam II Sriwijaya dan dua pembicara dari kalangan akademisi Unsri, Drs. Syafruddin Yusuf, M.Pd., dan Drs. H.M Alimansyur dengan moderator Drs. H. Joko Siswanto, M.Si.
Meskipun kesulitan menuliskan sejarah kepahlawanan namun Perang Lima Hari Lima Malam mengandung pembelajaran bagi masyarakat sekarang dan mendatang. Betapa para pejuang rela mengorbankan jiwa dan harta untuk sesuatu yang lebih mulia yakni kemerdekaan dan mempertahankan kemerdekaan. Begitu pula para pejuang memperlihatkan persatuan dalam melawan musuh yang sama yaitu penjajah Belanda walau mereka berasal dari suku bangsa dan pemikiran yang berbeda.
Sebelumnya, Supardi Lubis menceritakan kembali secara singkat jalannya peperangan dari hari pertama hingga hari ke lima. Peperangan dimulai dari provokasi tentara Belanda menembaki pos-pos pertahanan para pejuang. Ketika tentara Belanda berusaha merebut pos-pos pertahanan para pejuang seketika itu juga para pejuang bertahan dan membalas serangan sehingga perang sulit dihindari lagi. Tapi akhirnya kedua belah pihak bersepakat mengakhiri perang dengan gencatan senjata.

 

3595211534_b1aeff10bd“Para pejuang cinta kemerdekaan. Berusaha mempertahankan kemerdekaan dengan nyawanya,” ujar Supardi Lubis. “Cinta kemerdekaan membuat mereka berani melawan tentara Belanda meski hanya menggunakan senjata-senjata bekas dan sederhana. Padahal musuh-musuh mereka menggunakan senjata yang jauh lebih baik lagi didukung kendaraan tank, kapal perang dan pesawat tempur,” tambahnya.
Dari sisi lainnya, Syafrudin Yusuf menyatakan, di balik perang itu ada tekad bulat dari para pejuang untuk mempertahankan kemerdekaan dengan harta dan jiwa. Juga mendahulukan persatuan ketimbang perbedaan agama, suku dan etnis. Pun semangat peperangan selalu diimbangi pertimbangan rasionalitas dengan mematuhi putusan dari pemerintah pusat meskipun merugikan kepentingan lokal.
Lebih dari itu, Syafrudin menegaskan perang melawan penjajah Belanda membuktikan negara ini bukan pemberian penjajah Belanda atau Jepang atau Inggris. “Negara Indonesia didirikan atas perjuangan generasi sebelumnya,” tegasnya.
M Alimansyur mengungkapkan karakteristik penduduk Sumsel yang tidak begitu mempermasalahkan kepemimpinan berdasarkan kesukuan. Siapapun yang dianggap cakap untuk memimpin bisa diangkat jadi pemimpin di daerah ini. Terbukti dari kejadian Perang Lima Hari Lima Malam yang melibatkan sejumlah pimpinan dari luar Sumsel. Juga kedatangan bantuan pejuang dari luar Kota Palembang yang ingin bahu membahu dengan pejuang Kota Palembang melawan penjajah Belanda.

Tampaknya, lanjut Alimansyur, berbagai suku bangsa di Sumsel begitu mudah bersatu padu melawan penjajah Belanda. Hal ini merupakan modal untuk meneruskan pembangunan di masa-masa kemerdekaan. Mestinya pembangunan bisa berjalan secara berkelanjutan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Dalam kenyataannya, cinta kemerdekaan dan kecintaan pada tanah air di masa-masa kemerdekaan dan pembangunan terasa agak memudar. Paling tidak, itu yang dirasakan pelajar SMAN 19, Renny Puteri Utami. Tercermin dari kecenderungan pelajar melakukan tawuran hanya gara-gara soal sepele.

Perasaannya itu dituangkan ke dalam puisi berjudul Bayangan Filosofi Indonesia. Puisi ini meraih juara satu tingkat pelajar dalam lomba puisi yang diadakan Dewan Harian Daerah 45 Sumsel.

Beberapa baitnya mengungkapkan pudarnya persatuan dan kesatuan bangsa dari generasi muda. Tapi terbuka kesempatan luas untuk kembali bersatu padu layaknya pahlawan yang bersatu padu melawan penjajah.

Puteri Utami menuliskan, “Pemuda…/ Dimana letak filosofi Bhineka Tunggal Ika/ Pemuda merajutlah kemajuan di tanah ibu pertiwi/ Sampai rentah pun merah putih menyatu semangat/ Hancurkan setiap pertikaian hingga ke akar degradasinya/ Optimis akan semangat kepahlawanan diri/ Sekalipun lumpuh langkahkan kaki ke dalam wahanya perjuangan/ Sekalipun kelukaan bercampur keringat bercucuran/ Sekalipun sang surya turut berduka akan penjajahan/ Sekalipun titik darah penghabisan…

Pudarnya semangat kepahlawanan juga dirasakan mahasiswa Sospol Unsri, Dian. “Kepahlawanan tidak hanya berlaku di masa perang tapi juga di masa sekarang. Kepahlawanan sekarang memang berbeda dengan di masa lalu. Kepahlawanan sekarang di antaranya meraih prestasi akademis dengan sebaik-baiknya terutama bagi mereka yang berstatus sebagai mahasiswa baik negeri maupun swasta,” ujarnya.
Kepahlawanan juga berlaku di luar akademis. Siapapun anak-anak bangsa yang berusaha hidup mandiri, jujur dan pintar adalah juga pahlawan. “Setidaknya pahlawan bagi dirinya sendiri dan juga keluarganya,” ujarnya lagi.

 

 

business-monpera-1.dDian mengakui tantangan dan hambatan bagi generasi muda menunjukkan kepahlawanan terbilang berat. Terlebih lagi masih banyak mahasiswa yang kurang begitu sungguh-sungguh meraih prestasi akademis. Jadi memang butuh jiwa kepahlawanan untuk bisa mengatasi tantangan dan hambatan yang ada. “Kiranya kepahlawanan perang di masa lalu menginspirasi anak-anak bangsa untuk membuktikan kepahlawanannya di masa kemerdekaan dan pembungan sekarang ini,” tandasnya.

Di akhir seminar, moderator Joko Siswanto mengingatkan perlunya mengangkat dan mengungkap kembali makna di balik Perang Lima Hari Malam. Terutama menghidupkan kembali jiwa kepahlawanan di masa kemerdekaan dan pembangunan. Pejuang-pejuang dalam perang itu merupakan para pahlawan bagi bangsanya. Sebagai penghormatan, ketika meninggalnya, mereka mengisi Taman Makam Pahlawan.

 

Masa perang kemerdekaan membutuhkan jiwa kepahlawan anak-anak bangsa yang berani berkoban jiwa dan harta. Begitu pula masa kemerdekaan dan pembangunan juga membutuhkan jiwa kepahlawanan anak-anak bangsa. Jiwa-jiwa kepahlawanan inilah yang mestinya tumbuh dan berkembang dalam setiap generasi muda.(tim)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s